Saturday, January 20, 2018

Alasan Budaya Jawa Unik

Alasan Budaya Jawa Unik Memiliki Karakteristik Tersendiri

Alasan Budaya Jawa Unik - Adakalanya  pertemuan  antara  budaya  lokal  dengan  ajaran  agama terlihat tidak sejalan dengan kaidah ajaran agama. Tetapi pengalaman sejarah yang  panjang  dalam  hal  integrasi  budaya  lokal  dengan  unsur  budaya  pen-datang mampu menyajikan sebuah kekayaan budaya bangsa bahkan sebagai alat  pemersatu  bangsa, sebab  budaya  merupakan  hasil  karya  manusia,sehingga manusia sendirilah yang dapat menerima, menolak atau mengubah budaya tersebut. Salah  satu  bentuk  integrasi  budaya  lokal  dengan  budaya  pendatang adalah  diadakannya  upacara siraman  ketika  akan  melakukan  pernikahan.
Upacara siraman yang di  dalamnya  memuat  nilai-nilai  filosofis  dan nilai agama (religi), terlepas dari persoalan pro dan kontra, syirik atau tidak syirik, inilah sebuah kenyataan bahwa budaya siraman ini ada di masyarakat Jawa dan  dijalankan  oleh  masyarakat Jawa.  Dalam  rangka  mengungkap  makna simbolis  yang  terdapat  dalam  upacara
siraman yang  penuh  dengan  simbol-simbol  dan  butuh  pemaknaan  ini,  maka  sebuah  penelitian  tentang  upacara siraman penting  dilakukan  agar  masyarakat  yang  melakukan  upacara  ini paham akan apa yang dilakukan.
Masyarakat Jawa atau yang sering disebut dengan orang Jawa memang memiliki budaya yang unik, budaya yang berbeda dengan budaya dari etnis yang  lain.

Alasan Budaya Jawa Unik No 1

1. Othak-athik Mathuk
Tidak sedikit tentunya yang menyudutkan budaya Jawa dengan adanya budaya othak-athik  mathuk
ini.  Dikatakan  bahwa  masyarakat  Jawa  terlalu mengada-ada,  senangnya  “othak-athik  mathuk,  othak-athik  gathik,  othak-athik gathuk, tidak pernah berpikir kritis dan rasional, hanya
mengandalkan rasa saja dan tidak logis. Padahal jika dirunut, jarang disadari bahwa “semua
hal” (bahkan ilmu sekalipun) lahir atas OAM (othak athik mathuk) ini. Sedikit sekali yang mengakui bahwa munculnya teori sekaliber Archimides, Thomas Edison, Boyle dan yang lainnya sebenarnya berakar dari tradsisi OAM ini. Kita ingat ketika Thomas Edison menemukan “listrik”. Ia
melihat eksperimentasi ayam  yang sedang mengerami telurnya. Setelah 21 telur  itu menjadi panas,
untuk kemudian keluarlah anak ayam. Ia buru-buru menuliskan eksperimen-
tasinya tersebut, bahwa panas ada kaitannya dengan listrik. Yang sekarang ini tradisi tersebut digunakan oleh pengusaha telur dan petani ayam potong.
Belum lagi ketika Archimides menemukan “berat jenis” benda. Ia ketika itu  bermain-main  di  air,  mengangkat  sebuah  batu  beberapa  kali,  ternyata terasa  ringan  dibanding  batu  itu  jika  diangkat  di  daratan.  Kemudian Archimides pulang dan merumuskan temuannya. Jelas ini merupakan embrio
AOM menjadi terbentuknya janin keilmuan. Dalam filsafat Jawa tradisi OAM juga terdapat dalam tulisan Ha-na-ca-ra-ka:
Ha-na  itu  nyata  ada,  mengisyaratkan  ilmu kasunyatan.
Ca-ra-ka,  me-ngandung  aksara  yang  menyiratkan  kata  cipta,  rasa  dan  karsa,  yakni  salah
satu unsur kelengkapan hidup manusia.
Da-ta-sa-wa-la: mengiaskan zat yang tidak pernah dapat salah, yaitu Tuhan.
Pa-dha-ja-ya-nya:  “sama  jayanya”.  Sedang
Ma-ga-ba-tha-nga: Ma  menyiratkan  kata sukma,  dan ga  menyiratkan  kata angga  (badan).  Maksudnya  jika  sukma masih  bersatu  dengan  badan,  manusia  itu  masih  hidup,  tetapi  jika  sukma telah  meninggalkan  badan,  manusia  itu  mati,  tinggal ba-tha-nga  yaitu
bangkainya. Sukma kembali kepada Tuhan.
Kecerdasan  nalar  dan  rasa  ternyata  memberikan  sumbangan  penting dalam menumbuhkembangkan budaya Jawa. Akhirnya tradisi OAM semakin digemari  dan  dijadikan  sandaran  analisis  kultural  dalam  segala  hal.  Orang Jawa  asli  maupun  yang  telah  terkena  pengaruh  budaya  lainpun  sedikit banyak dinyatakan selalu menggunakan pisau analisa
OAM.

Alasan Budaya Jawa Unik No 2 Dan 3 

 kode orang jawa 

 Alasan Budaya Jawa Unik
2. Orang Jawa Senang Simbol
Penampilan orang Jawa penuh dengan  isyarat atau sasmita.banyak hal yang terselubung,diungkapkan dalam tanda-tanda yang khas. Seperti halnya kalau  ada  perawan  Jawa  yang  akan  dijodohkan dengan laki-laki,  perawan tersebut  tidak  perlu  mengatakan  mau  atau  sebaliknya  menolak.  Ia  cukup dengan  menggerakkan  mimik  atau  gerakan  tangan  dan  angukan  saja andaikata mau. Bahkan kalau perempuan terus terang mau, dianggap kurang
tepat (pener) meskipun sebenarnya bagus (bener).
Sifat orang Jawa yang demikian itu biasanya muncul dalam usaha men-didik atau  menyampaiakan  gagasan-gagasan  kepada orang lain tidak “terus terang’, melainkan menggunakan simbol atau lambang budaya. Kenyataan ini dipengaruhi  oleh  sikap  hidup  orang  Jawa  yang  lebih suka  mengatakan sesuatu  secara  tidak  langsung  hingga  sukar  diketahui  seketika  apa  se-sungguhnya yang dimaksud atau dikehendaki. Budaya semu penuh dengan simbol. Di dalamnya banyak menampilkan ungkapan.  Simbol  dan  ungkapan  tersebut  sebagai  mani
festasi  pikiran, kehendak  dan  rasa  Jawa  yang  halus.  Segala  sikap  dan  tingkah  laku  ter-
bungkus dengan semu diupayakan agar mengenakkan sesame hidup. Dalam arti melalui hal-hal yang tersamar, ada yang disembunyikan tetapi tetap jelas. Karena  masing-masing  pihak  pemakai  simbol  telah  paham.  Adapun  yang belum  paham  diharapkan  untuk  mempelajari  dan  menyelami  kedalaman simbol tersebut.

3.Prinsip Cocog ( Cocok ) atau Ngelmu Titen
Alasan Budaya Jawa Unik - Karakteristik orang Jawa yang tidak kalah penting dan menarik adalah kegemarannya  memanfaatkan  prinsip cocog.  Cocog  artinya  tepat  sesuai dengan keadaan. Prinsip cocok bisa dianggap buah pola pikir Jawa yang ber-dasarkan  pada  ilmu  titen  artinya  ilmu  yang  berlandaskan  pada  kebiasaan yang  berulang-ulang,  dicatat,  direnungkan  dan  diamalkan.  Orang  Jawa banyak  berpegang  teguh  pada  prinsip cocok ini  sebagai  arah  hidupnya. Kompas hidup yang dibangun menggunakan pengalaman nyata. Pengalaman itulah yang dinamakan prinsip cocog dan sarat ngelmu titen. Buah  prinsip cocok  atau ilmu  titen  biasanya  diwujudkan  ke  dalam bentuk primbon. Sampai sekarang ada berpuluh-puluh primbon yang dihasil-kan  orang  Jawa.  Primbon  tersebut  ada  yang  disimpan baik-baik  dan  selalu dibuka ketika orang Jawa akan menjalani apa saja. Primbon tersebut menjadi “kitab kecil” yangmenjadi pedoman tingkah laku hidup orang Jawa. Dengan primbon  tersebut  orang  Jawa membudayakan  prinsip cocog dan ilmu titenbaik secara real maupun simbolik. Penerapan prinsip cocog dan ngelmu titen juga disertai laku, karenanya orang Jawa sering menjalankan nglakoni pada saat menggunakan prinsip dan ngelmu tersebut. Peristiwa nglakoni dapat berupa semedi, bertapa, mencegah hawa nafsu (puasa). Melalui laku batin orang Jawa akan mendapatkan wisik, wahyu dan pulung.

Demikian artikel Alasan Budaya Jawa Unik ini semoga dapat bermanfaat . Terima kasih.